Berbagi ^Salam Hebat^

Senin, 16 November 2015

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan



Ikatlah Ilmu dengan Tulisan
Smile yang terekspresikan betapa manisnya perjuangan hidupnya. Lika-liku hidupnya yang menurut sebagian orang pahit, namun buat gadis yang satu ini berprinsip bahwa ia harus melewatinya. Karna sesuatu yang manis itu pasti berawal dari yang pahit.
            Alifah Barizah, adalah nama pena dari Sholikah. Seorang gadis yang lahir dari Boyolali, Jawa Tengah, 28 September 1993. Ia anak ke 3 dari 4 bersaudara. Dari ke 4 putri Bp. Mulyono dan Ibu Prihatin, Hanya dia lah yang hobi menulis. Kemampuan menulisnya belum terlihat ketika masih SD. Namun, dari SD ia senang membaca buku cerita. Baru setelah menjajaki dunia SMP, ia mengenal sosok guru bahasa Jawa bernama Pak Dio, seorang inspirator pertama dalam dunia tulis-menulis. Beliau guru di SMPN 1 Banyudono, beliaulah lah yang membimbing dan mengajarinya cara mengirimkan ke media massa. Walaupun notabene, Pak Dio adalah guru bahasa Jawa, tulisan beliau kerap kali dimuat terutama di majalah bahasa jawa, seperti penyebar semangat. Berawal dari motivasi-motivasi beliaulah, perjalanan panjang ini dimulai.
            Alifah, terus mengirimkan karya berupa puisi, cerpen, dongeng ke Solopos dengan bantuan Pak Dio pastinya. Muat tak kemuat, itu tak masalah, meskipun miris juga harus merogoh uang saku Alifah buat ngetik dan ngeprint. Terkadang juga minta orang tua, namun ia berjanji, ia akan berusaha membahagiakan orang tuanya, lewat karya-karyanya kelak. Baginya yang masih duduk di bangku SMP, menulis adalah hobinya. Dengan menulis, ia bisa menuangkan uneg-unegnya serta bisa membahagiakan orangtuanya ketika karyanya lolos. Selain itu dapat pula  menambah uang saku ketika dimuat. Namun lambat laun, ia lebih paham akan esensinya.
            Saat tiba masa terindah buat Alifah, ketika puisi pertama kalinya dengan judul Pecundang Sejati dimuat di Solopos. Ia sangat senang meskipun honornya saat itu sekitar Rp 20.000,00 namun itu tak masalah. Yang penting, karyanya kemuat dengan judul Pecundang Sejati.
            Karir kepenulisan berlanjut ketika di sekolah atas. Ia melanjutkan di MAN 2 Solo. Di situlah ia dipertemukan dengan 2 orang bagai malaikat. Pertama, adalah Bu Sita Kurniasari, guru biologi. Beliau membimbingku untuk mengikuti berbagai lomba karya tulis. Alhamdulillah, saya bersama teman, mampu menyabet  2 kejuaraan. Juara 1 LKTI Dies Natalis Akbidmus 2009 dengan tema tentang kesehatan organ reproduksi wanita. Kemudian, juara 2 tingkat SMA se surakarta dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke 45 th 2009 dengan tema bahaya rokok dan narkoba. Serta 2 sertifikat lainnya, sebagai peserta LKTI tingkat SLTA se suarkarta dalam rangka 60 th SMA N 1 Surakarta. Dan debagai finalis LKTI antar SMA/SMK dengan tema food supplement: trend atau kebutuhan?? Di Akademi Farmasi Nasional. Pernah juga melancong ke kota Jogja tepatnya di UIN, dia dan temannya mendapat peringkat 7 dari 10 finalis dengan yoghurt yang berasal dari fermentasi susu biji waluh.
            Tak ubah hal nya dengan hobinya, mengikuti lomba  karya sastra fiksi berupa puisi, ia menyabet juara 2 lomba puisi Islami dalam SKI In Action FMIPA UNS, 16-21 Nov 2009. Serta juara 2 lomba cerpen di UNS juga dari BEM FKIP UNS.
            Kemudian, ia juga tak berhenti mengirimkan karya ke media massa. Alhamdulillah, 2 puisinya lolos masuk di Solopos dengan judul Alam dan Cobaan. Alifah sangat bersyukur dan bahagia meski dengan honor Rp. 25.000,00. Hal itu telah membuatnya semangat untuk nulis, nulis, dan nulis. Alhasil, Allah mengirimkan seorang bidadari dunia yang mulia hatinya. Nia kurnia lutfi Astuti, ialah nama beliau. Seorang guru kajian di tempat Alifah dan teman-teman perempuan mengkaji ilmu agama. Beliau mau menerima sharing dari anak-anak didiknya. Berawal dari Mbak Nia lah, Alifah mengenal FORUM LINGKAR PENA ( FLP ) SOLORAYA.
            Semenjak itulah, bergabung dengan FLP Soloraya sangat membantunya dalam meningkatkan kualitas tulisannya. Ia mempunyai banyak bekal dalam kepenulisan. Ia bertemu dengan orang2 hebat di sana. Orang2 yang dapat menginpirasinya.
            Berlanjut ke bangku kuliah IAIN Surakarta, Alifah kembali mengikuti event LKTII bagi mahasiswa. Meski baru bergelar finalis saja, tapi Alifah yakin, suau saat nanti ia lah yang berpredikat sang juara. Selain itu, ia kembali menemukan seorang inspirator. Sang dosen bahasa Indonesia, bernama Bp. Johan Wahyudi ini mengenalkan kepada semua mahasiswa untuk mencoba berlatih mengirimkan karya ke media massa. Alhamdulillah, 3 karya fiksi Alifah berupa cerita lucu dalm rubrik AH TENANE Solopos tembus. Dengan judul Tutupen Lawange, Wedi Mokmen, Wedi Culik. Dengan honor masing-masing Rp. 75.000.
            Saat ini, ia sedang menggeluti kepenulisan cerita anak. Ya bertatih-tatih dalam melangkah merupakan awal dari lincahnya perjalanan ini. Baru sedikit, ia mencoba menulis cerita anak. Alifah pun merasa ia berbakat dalam dunia tulis menulis cerita anak. Selain menjadi seorang guru dalam cita-cita nya, ia juga yakin pasti ia akan menjadi seorang Author or writer. Kini salah satu novelnya sudah diterima penerbit yang berjudul “Sang Peneliti Kecil”.
 Berkecimpung di  FLP jugalah, Allah mengirimkan seorang inspirator yang sungguh luar biasa. Bersahaja. Beliau bergerak di balik media, jauh dari sorotan publik, namun sebenarnya melejit. Beliau mempunyai wawasan yang luas. Meski boleh dibilang tua, namun semangatnya masih muda. Berbagai event tentang kepenulisan, kerap beliau ikuti. Tiada sangka, karya-karyanya tersebar di mana-mana seperti dalam bentuk buku, novel, atau cerita-cerita anak, dongeng, komik, dan lain sebagainya. Subhanallah, luar biasa, tampilannya yang sangat biasa sungguh menipu banyak publik bahwa beliau adalah pemimpin redaksi, editor, kartunis, cerpenis, dll. Beliau bernama Bp. Winarno.
Saat ini, Alifah terus berlatih, belajar, mencoba, berusaha menulis dan mengirimkan karya. Kini, ia lebih paham akan esensi sebuah karya. Karya yang bisa menginspirasi orang lain. Karya yang kelak menjadi jejak peradabannya. Lewat tulisan pun dakwah dapat pula dimulai. Ketika orang yang membaca tulisan kita berubah menjadi lebih baik dan dapat mengambil manfaat dari tulisan kita, itulah kebahagiaan tersendiri. Semoga Allah memudahkan langkah para penulis untuk senantiasa istiqomah berdakwah lewat goresan pena ini. Karena dengan mengikat ilmu dalam bingkai tulisan itu akan sangat bermakna.
 Orangtua Alifah selalu mewanti-wanti dalam bahasa Jawa, “rapopo, berjuang sek!” hal itu bagai tamparan buat Alifah. Maksudnya tamparan yang sangat memotivasi baginya, karena hidup banyak ujian dan tantangan, harus ditempuh dengan perjuangan. Butuh pengorbanan. So, bersungguh-sungguhlah tuk  menuai sebuah keberhasilan.***motto*** J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar