Berbagi ^Salam Hebat^

Jumat, 16 Mei 2014

UKM D GELAR SEMINAR


UKM Disabilitas Gelar Seminar
            Sukoharjo-UKM Disabilitas IAIN Surakarta mengadakan seminar bertema menggalang gerakan nyata mengurangi resiko kebutaan di Aula Paska lantai 4, Senin (7/4) pukul 9.30. Acara ini bertujuan untuk mengidentifikasi gejala kebutaan sejak dini. Berawal dari pembagian kacamata gratis secara simbolis yang kemudian dilanjutkan oleh pembicara, Bapak Basuki. Seorang penyandang tunanetra sekaligus menjabat ketua di Yayasan Sahabat Mata.
            “Dari kegiatan ini, diharapkan teman-teman disabilitas mampu berkompetensi dengan teman-teman yang lain serta dapat memberi manfaat kepada orang lain, tidak hanya yang menyandang disabilitas” ujar Dhani, ketua UKM D IAIN Surakarta.

FITK GELAR BEDAH BUKU



FITK Gelar Bedah Buku
Sukoharjo- Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan mengadakan bedah buku berjudul “Pendidikan Menghidupkan Nilai untuk Pesantren, Madrasah, dan Sekolah” di Aula Pasca Sarjana Lantai 4, Rabu (14/5). Acara dimulai pukul 09.00 diawali sambutan oleh Dr. Giyoto, M.Hum, selaku dekan FITK.
Pembicara menuturkan, “ Fakultas tarbiyah punya peranan besar untuk itu kami akan share pengalaman, “ ujar Budhy Munawar Rachman ketika mengadakan kegiatan ini. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa kita tidak bisa mengajarkan pendidikan karakter kalau kita sendiri tidak berkar

Selasa, 06 Mei 2014

Galeri Ekstra Jurnalistik SD IT Al-Ihsan

foto bersama



Fasilitas Minim di Kampus Mewah


Fasilitas Minim di Kampus Mewah

Sering terdengar dalam pembicaraan kita bahwa Kampus IAIN Surakarta merupakan kampus mewah alias mepet sawah. Tidak  dipungkiri hal tersebut karena letaknya yang dikelilingi oleh sawah penduduk sekitar. Namun, mewah di sini diartikan pula bahwa Kampus IAIN memiliki gedung yang megah. Gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi sedang didirikan saat ini. Berbagai gedung antarfakultas berderet-deret, berdesak-desakan. Lokasi parkir pun terhimpit diantara banyak gedung yang ada. Halaman kampus disulap menjadi area parkir.
Seiring berjalannya pembangunan gedung, soal tenaga pendidik pun harus segera diurus. Banyak mahasiswa berdatangan namun kekurangan tenaga pendidik itu juga menjadi masalah besar. Selain itu, kampus harus segera melengkapi fasilitas yang dibutuhkan dalam setiap pembelajaran. Tak jarang, mahasiswa berebut LCD ketika akan melaksanakan perkuliahan. Akhirnya, siapa cepat dia dapat. Slogan itulah yang selalu dipegang. Pastinya mahasiswa yang mendapat jam perkuliahan awallah bisa meminjam LCD. Padahal, semua mahasiswa berhak untuk itu. Karena fasilitas yang belum memadai bisa menghambat pula jalannya perkuliahan.
Merambah ke fasilitas lain yang saat ini meresahkan para mahasiswa karena minim jumlahnya atau bahkan tidak ada sama sekali serta ada beberapa yang rusak namun tidak segera diganti. Kampus hijau yang didamba-dambakan selama ini berubah menjadi kampus yang penuh warna. Warna pergulatan para mahasiswa dalam menanggapinya, seperti sikap mahasiswa merespon hal ini.
Menurut saya sudah baiklah, ada perkembangan. Cuma mungkin buat kelas yang belum ada AC/kipas angin dan proyektor agar segera dikasih” ujar Mukhlis Mubarok,  mahasiswa jurusan PAI.
Selain fasilitas di kelas, soal kamar mandi pun menjadi masalah yang saat ini belum dituntaskan. Seperti kamar mandi yang tidak ada kuncinya. Bahkan pintu kamar mandi gedung A lantai 1 sebelah perpus jurusan begitu memprihatinkan. Bawah pintu sudah keropos, hampir seperempat pintu berlubang. Sungguh ironis sampai saat ini belum ada perbaikan.
Tidak jauh beda komentar dari salah satu mahasiswa PBI, M. Nur Ikhsan berkenaan dengan hal ini. Ia lebih menyoroti pada fasilitas ibadah. Ia menuturkan kesulitan dalam berwudhu ketika berada di masjid Al-Imam Al bukhori yang notabene merupakan masjid satu-satunya di IAIN Surakarta, “Saya melihat terkait perbaikan fasilitas ibadah di tempat wudlu kurang maksimal, sekarang justru air malah sulit mengalir akibat kurangnya perencanaan.
Perlu diketahui bahwa fasilitas wudhu di masjid Al Imam Al Bukhori IAIN Surakarta mengalami kerusakan dibagian pembuangan air, hal ini membuat tempat yang biasa digunakan untuk berwudhu menjadi tergenang air, hal ini tentulah membuat resah para mahasiswa mengingat sholat merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh orang muslim.
Di samping itu, mahasiswa angkatan 2012 ini juga menyoroti terkait dengan lahan parkir yang kian lama kian habis dimakan oleh gedung-gedung baru yang mulai tumbuh diarea kampus. Tentu ini juga masalah yang tidak dapat dianggap remeh apalagi dipandang sebelah mata, karena lahan parker merupakan kebutuhan dan hak Mahasiswa selain memperoleh pengajaran di sebuah universitas. “Terkait dengan permasalahan parkiran yang memenuhi gedung yang sangat mengganggu mahasiswa dalam berjalan dan harus berdesak-desakan dalam memarkir motornya.” Harus diketahui bersama saat ini IAIN Surakarta sedang gencar-gencarnya dalam membangun fasilitas terutama Gedung baru guna beraviliasi menjadi UIN Surakarta. Tentu hal ini mengakibatkan lahan parkir berkurang dikarenakan lahan yang dahulunya berfungsi menjadi lahan parkir Mahasiswa saat ini telah berubah menjadi Gedung-gedung bertingkat.
Fasilitas Kampus yang terletak di Jalan Pandawa ini masih memerlukan perhatian yang serius. Perlengkapan di dalam maupun di luar perkuliahan menjadi sarana yang mendukung kegiatan mahasiswa. Namun, di samping sarana prasaraa kampus, ada hal yang sangat menonjol dari perbincangan reporter dengan salah satu mahasiswa yang ditemui. Tanpa menyebut nama, mahasiswa itu mewakili dari beberapa ungkapan teman lainnya seperti yang dikatakan saat diespos “orang-orang akademik pada sakit gigi. Pada nggak mau senyum.
Dari tanggapan itu, seperti mengindikasikan bahwa pihak yang bersangkutan terlihat judes dan sinis. Tentunya hal itu bukan bermaksud mengolok-olok atau mencela. Itu sebatas keluhan mahasiswa agar pihak terkait pun merubah hal yang kurang baik menjadi lebih baik. Pelayanan kepada orang yang membutuhkan harus dijalani sepenuh hati. Hal itu lah yang sangat diharapkan semua orang, kritikan bukan berarti menjatuhkan namun bisa menyadarkan atau membangunkan. Sebuah senyuman merupak awal dari aura positif yang terpancarkan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Bukankah senyum itu shodaqoh?