Berbagi ^Salam Hebat^

Selasa, 05 November 2013

Belajar Menulis Flash Fiction

Belajar Menulis Flash Fiction

 

 


Flash Fiction
Cerita pendek sering disingkat cerpen adalah salah satu bentuk prosa. Sesuai namanya cerita pendek adalah sebuah kisah yang pendek. Pengertian panjang dan pendeknya sebuah cerpen mempunyai banyak pemahaman. Cerita pendek awalnya dibatasi dengan jumlah kata mulai dari 2000-20.000. Atau batasan halaman 10-20  halaman kertas ukuran A4, spasi 2.
Namun pada perkembangannya cerita dengan panjang di bawah ketentuan tadi, juga disebut cerita pendek. Padahal harusnya Cerita pendek sekali, atau ff/ flash fiction Mulai dari 200 sampai di bawah 2000 kata. Tapi terobosan terus dilakukan. Cerita Pendek Sekali, maksimal 500 kata. 
Bahkan di bawah 100 kata. Nah yang terakhir bukan lagi kata sebagai ukuran tapi karakter/huruf. Bahkan sejak berkembangnya sosial media seperti twitter ada akun fiksimini yang memplopori cerita sepanjang 140 karakter atau kurang dari itu.Dan disebut dengan Cerita Mini.
Akhir-akhir ini flash fiction menjadi daya tarik bagi banyak penulis. Pembatasan jumlah kata yang berkisar antara 200 - 500 kata menjadi tantangan tersendiri. Karena dengan pembatasan jumlah kata, unsur/syarat sebuah cerpen tetap harus terpenuhi. Yaitu : Penokohan, konflik, klimaks dan penyelesaian.
Pada flash fiction, penulis ditantang untuk langsung membuat "gebrakan", di awal dengan tetap memberikan diksi/majas yang indah. Menjadi sebuah flash fiction yang menggigit, manakali twist (kejutan) benar-benar di luar bayangan/perkiraan pembaca.
Tidak semua penulis mampu membuat twist dalam flash fiction. Dan inipun menjadi tantangan lainya. Bagi penulis novel, menulis cerpen sangat menjengkelkan, karena tidak dapat mengembangka cerita ke mana-mana/. Dalam cerpen, fokus adalah salah satu kunci.
Kalau mau dicermati, flash fiction tidak berbeda dengan cerpen hanya lebih pendek. Seperti sebutannya flash fiction, yang berarti sekilas kisah. Nah karena namanya hanya sekilas, jadi tidak mungkin ff itu berangkat dari masa lalu atau menggunakan seting cerita memori yang panjang. Ff, terjadi sekarang, menemukan masalah sekarang, diselesaikan sekarang.
Sebetulnya kalau anda rajin googling, pengertian tentang cerpen dan ff sangat banyak. Namun semakin  banyak informasi akan semakin membingungkan. Karena memang tidak ada ketentuan yang baku. sama seperti pembatasan jumlah kata/karakter.  Maka pengertian flash fiction atau cerita pendek sekali atau cerita yang diperpendek, sering saya katakan sebagai sebuah cerita yang di mulai saat naik angkot ke pasar dan selesai saat turun di pasar. 
Perjalanan dari rumah, diperjalanan dan tiba di pasar, adalah sebuah perjalanan yang pastinya ada banyak cerita di situ. (Macet, interaksi antar penumpang, penumpang dengan sopir dll.) Demikianlah sebuah ff harus dibuat, fokus pada satu cerita. Pembatasan jumlah kata/karakter menjadikan ff sebagai kisah satu jalur.  Sebuah cerita yang habis dilahap sebelum anda sempat berpikir untuk membalik halaman selanjutnya. Mengapa? karena cerita sudah selesai.
Ternyata masih banyak penulis fiksi yang  kesulitan menulis flash fiction 100 kata.
…Karena itu, saya sengaja merangkum kembali 11 seri artikel tips menulis flash fiction yang pernah terbit di Indonovel pada posting kali ini.
Semoga bermanfaat…

1. Sekilat Flash Fiction

Berisi definisi dan pengertian flash fiction. Artikel ini juga menguraikan sejumlah ciri khas flash fiction 100 kata yang membedakannya dengan kategori fiksi yang lebih panjang.

2. Flash Fiction; 100 Kata Atau Lebih ?

Belum ada konvensi mengenai batas maksimal jumlah kata dalam kategori flash fiction.
Ada yang mengatakan dibawah 100 kata, antara 100 – 300 kata, bahkan ada yang mentolerir sampai 1.000 kata.
Silang pendapat mengenai batasan maksimal jumlah kata dalam flash fiction dibahas tuntas dalam artikel ini.

3. Mungkinkah Menulis Fiksi Hanya Dalam 100 Kata (bagian 1-2)

Flash fiction memiliki persyaratan yang sama dengan cerita fiksi yang lebih panjang seperti; cerpen, novelette, atau novel. Flash fiction juga wajib mengandung; karakter, setting, konflik dan resolusi.
Persyaratan ini sepintas, boleh jadi terasa berat, mengingat jumlah kata dibatasi maksimal pada angka 100.
Nah, artikel yang terdiri dari 2 bagian ini akan memberikan arah yang sistematis bagi anda.

4. Tiga Tahap Menulis Flash Fiction

Tahapan yang terencana memudahkan seorang penulis menggarap cerita. Disini kami memaparkan 3 tahap teknis, sistematis & praktis, untuk memandu anda menulis flash fiction.

5. Empat Langkah Menulis Flash Fiction

Menulis flash fiction boleh jadi menyulitkan bila anda tidak mengetahui langkah-langkahnya. Secara terurut, dalam artikel ini disajikan panduan 4 langkah yang efektif dan efisien.

6. Show Don’t Tell Dalam Flash Fiction

Rumus Show Don’t Tell (tunjukkan, jangan katakan) diterapkan pada semua jenis kategori fiksi. Hanya dengan rumus ini, sebuah cerita fiksi akan terlihat hidup.
Namun rumus ini menyulitkan para penulis flash fiction, mengingat show don’t tell cenderung menggemukkan tulisan.
Jadi apa solusinya ?
Dengan alasan itulah kami menerbitkan artikel ini.

7. Fungsi Dialog Dalam Flash Fiction

Ternyata dialog tidak sekedar komunikasi antar dua-lebih karakter dalam cerita. Lebih dari itu, dialog memiliki beberapa fungsi & peran yang unik dalam sebuah flash fiction.
Apa saja fungsi-fungsi itu ?

8. Karakter Dalam Flash Fiction

Bagaimana cara menghidupkan karakter dalam cerita yang dibatasi maksimal 100 kata ?
Mungkinkah menampilkan karakter yang hidup tanpa mendeskripsikan karakter secara detail ?
Bagaimana cara menampilkan kekhasan masing-masing karakter dalam flash fiction ?
Temukan jawabannya pada artikel inii.

9. Menghadirkan Setting Ke Dalam Flash Fiction

Unsur setting wajib hadir dalam flash fiction.
Namun berbeda dengan fiksi panjang (semisal Novel), flash fiction  100 kata tidak memungkinkan anda mendeskripsikan latar sosial, tempat, dan waktu, secara detail.
Jadi bagaimana cara menyiasatinya ?

10. Tiga Kelemahan Flash Fiction Indonesia

Flash fiction merupakan kategori fiksi pendek yang diadaptasi dari luar. Kategori ini sendiri baru populer ditanah air dalam setahun-dua terakhir.
Tak heran bila masih ditemukan banyak penulis yang salah kaprah.
Artikel ini mencoba mengidentifikasi sejumlah kelemahan-kelemahan mendasar yang banyak ditemui pada karya-karya flash fiction tanah air.
Tentu saja dengan maksud agar kita bisa terhindar dari kelemahan-kelemahan tersebut.

11. Waspada Flash Fiction Asli Tapi Palsu ?

Iya, artikel ini tidak mengada-ada. Ada banyak diluar sana fiksi pendek bukan flash fiction namun diklaim oleh penulisnya sebagai flash fiction.
Padahal sebuah fiksi pendek harus mememenuhi beberapa persayaratan sebelum layak dikelompokkan sebagai flash fiction.
Artikel ini memaparkan sejumlah ciri yang membedakan flash fiction asli dengan yang ‘palsu’.

Sekarang, Anda siap untuk menulis flash fiction ?

Semoga daftar 11 seri artikel diatas mampu menjawab tuntas segala keingintahuan anda mengenai flash fiction.
Jika Anda masih punya pertanyaan, jangan ragu menyampaikannya lewat kolom komentar dibawah.
..dan jika Anda merasa ini bermanfaat, merasa bebas untuk membagikannya dengan teman Anda via facebook & twitter.
Photo credit by B Jacques [creative commons]
 
 
 
 
 
 
 MENCOBA MEMBUAT...
Flash Fiction by: Alifah Barizah (Sholikah)

Pelangi kehidupan
Pagi itu selepas aku bersih-bersih rumah, aku bersegera menyegarkan badan. Suasana desaku kembali menyeruak selepas kepulanganku dari rumah saudara selama seminggu. Tak sabar aku ingin segera memasukkan uang pemberian kakakku ke dalam celengan mungilku. Sebelumnya, dalam celenganku itu kumasukkan kertas bertuliskan basmalah dan impianku yang sangat ingin membeli laptop. Dengan memiliki laptop, tugas-tugas kuliah dapat terselesaikan dengan mudah.aku membuka almari, dan kutemukan celengan mungilku berwarna hijau berbentuk tabung. Aku tengok pada lubangnya, seberapa uang yang telah kukumpulkan sampai saat ini. Dari mulai uang saku kuliah hingga uang hasil jerih payahku menjadi tentor di sebuah bimbingan belajar. Namun setelah kuintip, tiba-tiba jantungku merasa berdetak kencang, air mata ini tak kuasa meleleh deras, bibir tak henti-hentinya berucap istighfar.
“Astaghfirullahal’adzim…”
Hatiku bergejolak. “Ya Allah, salah apa aku ini. Sampai-sampai ludes semua. Siapa yang tega melakukan ini Ya Allah!” rintihku sambil terus berucap istighfar. Saat itu aku hanya bisa sesenggukan di kamar. Aku tak mau nenek dan saudaraku yang lain tahu kalau aku menangis. Celengan itu masih bagus, tak ada bekas sobekan pisau atau benda lain. Isi di dalamnya habis semua kecuali surat kecilku yang berisi impianku membeli laptop. “Ya Allah…” aku benar-benar miris. Dalam hatiku selalu merintih, “Ya Allah padahal itu uang hasil jerih payahku selama semester satu hingga semester tiga ini. Aku kumpulkan agar bisa membelinya. Pasti sudah ada 1 jutaan. Aku rela tidak ikut-ikutan shopping seperti teman-temanku yang lain. Aku kayuh sepeda onthelku sampai larut malam. Aku beranikan diri pulang di tengah kegelapan, dengan mantel di saat langit menumpahkan air ke bumi. Aku kedinginan Ya Allah. Aku tahu, aku harus bekerja. Karena ku paham, penghasilan orangtuaku hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ya Allah, apa salahku hingga Engkau tega membiarkan orang mencuri uangku.”
Keluhan itu menyeruak dari relung hatiku. Namun di sisi lain, aku begitu jahat. Aku menyalahkan Tuhan. Aku layaknya orang yang tak bersyukur. Masih ada orang yang lebih menderita. Sementara aku??? Baru diberi cobaan uang hilang saja sudah mengeluh habis-habisan. Tak pantas aku bersikap seperti itu. Karena harta juga tak akan dibawa mati.
“Astaghfirullahal’adzim…. Ya Allah ampuni hamba, Ya Allah. Yah, mungkin ini belum rejekiku. Hamba yakin pasti Engkau akan menggantikan yang lebih baik.” Sedikit menenangkan kata-kata itu yang terlontar entah dari sudut hati di sebelah mana. Sisi nuraniku berbicara. Aku harus bisa mengikhlaskan ini semua. Orang yang mencuripun pasti suatu saat kena getahnya.
Aku mulai beranjak dari kamarku. Aku ayunkan langkah kaki ini menuju ruang depan.
“Berangkat jam berapa Nduk?[1] Kok dari tadi di kamar terus,” Tanya nenek.
Aku tersenyum. “Iya Mbah[2], tadi baru dandan[3]. Sudah cantikkan, Mbah?” aku berusaha membuat nenek tersenyum. Entah mungkin aku juga ingin menghibur diri.
Nenek manggut-manggut. Terlihat pula garis-garis di dahinya mengernyit. “Ya sudah, sana berangkat, nanti telat lho.”
“Iya, Mbah.” Aku pun mencium punggung telapak tangan beliau. Di rumah ini, aku hanya bisa pamitan dengan nenek. Karena kedua orangtuaku sudah berangkat ke pasar mencari sesuap nasi selepas subuh tadi. Aku ambil sepeda onthelku. Ku jejakkan kaki ini menuju kampus dengan diawali basmalah.
Sepanjang perjalanan ke kampus, aku berusaha melupakan kejadian tadi. Aku menghirup udara segar di pematang sawah yang kulewati. Angin bergerak sepoi-sepoi, menyentuh kulitku dengan lembut. Jilbab yang kukenakan terhembus angin layaknya bendera Sang Saka yang siap dikibarkan. Burung-burung sawah siap menyerbu di medan persawahan. Bersaing dengan para petani yang berteriak-teriak mengusir sekawanan burung itu. “Ah lucu juga,” batinku. Senyum terkembang di sudut bibirku.
Tak terasa kaki ini sudah menjejakkan kampus nan hijau bersama sepeda kesayanganku. Aku parkirkan sepeda di bawah pohon bersanding dengan sepeda teman-teman yang lain. Panorama alam yang sangat indah pada pagi ini sudah membuatku nyaman. Menyadarkanku karena ketidakbersyukuranku. “Ups, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.” Kata-kata itu selalu aku ingat-ingat agar aku senantiasa mawas diri dengan hal-hal yang tidak baik.
“Assalamu’alaikum…” sapa Rinda, teman sekelas, ketika berpapasan denganku. “Wa’alaikumsalam… eh mau ke mana?”
“Ah, gimana sih Ka. Ini mau ke ruang akademik.”
“Ngapain?” aku masih belum paham.
“Wah…wah… ni anak, ketinggalan zaman. Nggak update lu... hehe” candanya.
Aku mengernyitkan dahi. “Lhoh, aku beneran nggak tahu maksud kamu.” Lagi-lagi aku seperti orang linglung. Entah itu anak maksudnya apa, tiba-tiba menggandeng tanganku meluncur ke akademik. “Eh..eh… bentar Rin, berhenti dulu. Kenapa sih, kok tergesa-gesa amat. Inikan mau kuliah.” Aku menghentikan langkahnya seketika.
Rinda menghela nafas panjang. “Huft… capek deh. Mulai kuliahnyakan masih seperempat menit lagi. Nah, ayo kita ke akademik sebentar, ambil blangko saja kok.”
Aku tambah bingung dengan ucapan Rinda. “Duh Rin, apa susahnya sih tinggal njelasin aja. Ada apa?” tanyaku agak mendesak. Sudah dari tadi Rinda berbelit-belit menjawab.
“He…he…he…, kan biar surprise. Salah sendiri nggak update.” Rinda terkekeh-kekeh. “Sudah, ayo kita ke sana. Ntar juga tahu kok, buruan keburu masuk kuliahnya.”
Hmmm… aku hanya bisa mengikuti langkahnya.
Sesampai di sana, ada beberapa kakak kelas yang kukenal juga. Mereka sibuk menulis dalam blangko itu.  “Sudah ambil, Mbak” Tanya Rinda. Kakak tingkat hanya mengangguk dan tersenyum. Rinda meminta ke Pak Edi, petugas di akademik. Aku menunggu di luar saja. Entah kenapa, aku ingin menenangkan diri. Dari tadi aku sudah menduga kalau ini urusan dengan beasiswa dari kampus. Aku juga mendaftar, tapi sepertinya aku tidak dapat. Karena tak ada pemberitahuan. Sementara Rinda dan kakak-kakak tingkat terseleksi jadi penerima beasiswa. Mereka sangat berantusias. Kalau urusan dengan uang, hatiku mulai rapuh lagi mengingat kejadian di rumah beberapa jam yang lalu.
“Eh Ka, ke mana aja sih. Sini lho!” Rinda memanggilku dari dalam ruangan sambil melambaikan tangan. Aku menggeleng. Aku ingin di luar saja.
Rinda menghampiriku, “Nih blangko untuk kamu. Kita isi di kelas saja soalnya bentar lagi kuliah kita masuk. Tetapi ingat, ntar dikumpulin ke sini lagi sebelum pukul tiga.”
Aku lirik isi dalam blangko itu tadi. “Lhoh!” Tertulis formulir penerima beasiswa. “Lhoh Rin! Aku dapat juga?” tanyaku tak menyangka kalau aku juga terseleksi jadi penerima beasiswa.
“Hu… makanya jangan melamun terus. Ada apa sih lu? Dari tadi kayak orang linglung.” Celotehnya,
“He…he…he… maaf Rin.”
“Tuh liat di papan pengumuman, ada nama-nama penerima beasiswa.” Tunjuk Rinda ke arah papan dekat majalah dinding.
Aku segera berlari. Benar sekali ada namaku juga tertera di sana. “Subhanallah… Alhamdulillah…” tak henti-hentinya kalimat syujur kupanjatkan kepada Allah SWT. Ternyata di balik kehilanganku, Allah punya rencana lain. Bahkan beasiswa ini nanti kalau sudah cair, sangat cukup untuk membeli laptop. “Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.” Sungguh kuasa Allah itu tiada tara.
Setelah ada mendung dan hujan mengguyur, Guntur menggelegar, pastilah pelangi akan memberi warna dengan sangat indahnya.


[1] Nduk=Nak. (Panggilan untuk perempuan)
[2] Mbah=Nek. (Panggilan untuk nenek)
[3] Dandan=bersolek
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar